Fajri manusia tidak memiliki suara tuturan yang sama.

 

Fajri Faurorozi

(NIM :
175120401111010)

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

Program Studi
Hubungan Internasional

Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik

Universitas
Brawijaya

2017

Jl. Dewandaru
Dalam no.12 Malang

[email protected]

 

 

ABSTRAK

Studi yang dilakukan ini bertujuan
untuk memaparkan bentuk kesantunan berbahasa yang digunakan antara penghuni kos
terhadap pemilik kos. Suatu tuturan yang mengandung unsur kesantunan berbahasa
menjadi objek utama dalam studi ini, serta teknik dan strategi kesantunan
berbahasa yang digunakan sipenghuni kos. Jenis penelitian ini berupa penelitian
deskriptif kualitatif. Objek dalam studi ini yakni berupa tuturan penghuni kos
dalam berkomunikasi dengan pemilik kos. Kemudian data dalam studi ini berupa
frase, klausa, dan kalimat dari tuturan penghuni kos. Sedangkan teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa teknik catat.
Teknik analisis data dalam penelitian ini berupa pada intralingual. Hasil studi
yang telah dilakukan menemukan 2 jenis maksim dari 6 maksim yang ada, yang
tidak ditemukan yaitu maksim kesimpatisan, maksim kesepakatan, maksim
kearifan, dan maksim kerendahan hati.

 

 

 

Kata kunci : kesantunan,
intralingual, deskriptif kualitatif  

 

 

A. Pendahuluan

Bahasa
digunakan sebagai alat komunikasi oleh penuturnya. Bahasa dipisahkan menjadi
dua kelompok besar, yaitu bahasa tulis dan bahasa lisan. Sebagaimana yang telah
kita ketahui, manusia tidak semuanya memiliki tulisan yang sama (bahasa tulis).
Demikian pula dalam bahasa lisan, manusia tidak memiliki suara tuturan yang
sama. Akan tetapi afeksi-afeksi jiwa yang ditandai oleh kata-kata tuturan, baik
tulis maupun lisan adalah sama bagi keduanya.

Pemilihan
bahasa oleh penutur lebih mengarahkan pada bahasa yang komunikatif. Melalui
konteks situasi yang jelas suatu peristiwa komunikasi dapat berjalan dengan
lancar. Dalam hal ini, istilah tindak tutur muncul karena dalam pengucapan
sesuatu, penutur tidak semata-mata menyatakan tuturan, tetapi dapat mengandung
maksud dan tujuan dibalik tuturan.

            Untuk mengetahui seberapa tinggikah
tindak kesantunan berbahasa yang digunakan oleh penutur (penghuni kos) terhadap
mitra tutur (pemilik kos) dapat menerapkan prinsip kesantunan milik Leech,
menurut Leech (2011: 206) untuk menerapkan prinsip kesantunan diperlukan adanya
maksim, maksim tersebut dibagi menjadi 6 jenis, yakni maksim kearifan, maksim
kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, maksim
simpati. Kesantunan merupakan hal yang harus diperhatikan dalam berutur kepada
mitra tutur, untuk memberi kenyamanan dalam berkomunikasi, selain memberi rasa
nyaman dalam berkomunikasi juga dapat menimbulkan rasa kewibawaan, atau rasa
hormat terhadap mitra tutur. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan  Prayitno (2011: 26) menyatakan, bahwa
kesantunan komunikasi merupakan strategi penutur untuk menjalin keterbukaan
antara penutur-mitra tutur terhadap hal-hal yang dianggap “tabu”.

            Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui seberapa besar tingkat kesantunan berbahasa yang digunakan seorang penghuni
kos kepada pemiliknya di Kelurahan Jatimuyo,  Kecamatan Lowokawaru, Kota Malang tersebut.
Dengan menerapkan prinsip kesantunan milik Leech untuk menentukan penggunaan
maksim yang digunakan oleh penghuni kos, dengan prinsip tersebut tuturan penghuni
kos akan diketahui seberapa besar tingkat kesantunannya.

 

B. Metode Penelitian 

Jenis
penelitian yang akan dilakukan ini berupa penelitian kualitatif, menurut
Darsinah, Dkk (2013: 11) Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang
berusaha mengungkapkan gejala yang dikaji secara menyeluruh dan sesuai dengan
konteks melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri
peneliti sebagai instrumen utama. Subjek penelitian ini berupa tuturan yang
diucapkan oleh sipenghuni kos. Menurut Mahsun (2013: 19) objek penelitian
merupakan suatu hal yang selalu ada dan selalu bersifat ganda, dengan kata lain
objek penelitian bahasa selalu hadir dalam konteks yang yang jumlahnya lebih
dari satu. Sedangkan dalam penelitian ini objeknya berupa bentuk kesantunan
berbahasa yang ada pada tuturan sipenghuni kos ketika berkomunikasi dengan pemilik
kos.

Data  penelitian ini berupa kata, frasa, dan
kalimat dari tuturan sipenghuni dengan pemilik kos. Sedangkan sumber data dalam
penelitian ini berupa catatan dari kegiatan berkomunikasi antara penghuni dan
pemilik kos di Kelurahan Jatimuyo, Kecamatan Lowokawaru, Kota Malang. Dalam
penelitian ini hanya akan menggunakan satu saja, yakni metode  simak, dan beberapa teknik dalam metode
tersebut yaitu teknik catat.

 

C. Hasil dan Pembahasan

            Kesantunan berbahasa pada komunikasi
penghuni-pemilik kos ini perpedoman pada prinsip kesantunan milik Leech. Dari
studi yang telah dilakukan, bahwasannya dalam tuturan pembantu terdapat
beberapa ujaran yang mengandung maksim atau mengandung prinsip kesantunan milik
Leech tersebut, diantaranya;

1.     
Penggunaan
Maksim Kedermawanan (Generosity Maxim)

      Maksim
kedermawanan merupakan maksim yang mengurangi keuntungan bagi penutur, dengan
menambah pengorbanan bagi dirinya sendiri, dari 27 data yang ada terdapat 6
tuturan yang mengandung maksim kedermawanan, salah satunya terdapat pada data
ke-4, lebih jelasnya perhatikan paparan tuturan berikut;

(01)               : DT-4

Eksplikatur
  : “Baik
bu, nanti akan saya antarkan mejanya kelantai bawah” .

Implikatur    : Diduga pemilik kos meminta sipenghuni
untuk mengantarkan meja ke lantai bawah.

Konteks         :
Percakapan yang terjadi ketika pemilik kos memberi perintah      kepada penghuni kos, untuk mengantarkan
meja yang diduga seharusnya berada dilantai bawah, bukan dilantai atas.

Maksud
TK  : Sipenghuni kos menerima perintah pemilik
kos, selain itu sipenghuni juga memberi pengorbanan kepada pemilik kos untuk mengantarkan
mejanya kelantai bawah.

            Dari tuturan 01 tersebut terlihat
bahwa sipenghuni kos mendapat perintah dari pemilik kos untuk mengantarkan meja
yang diduga seharusnya berada dilantai bawah, bukan dilantai atas, dan sipenghuni
kos menerima perintah tersebut meskipun tidak langsung menjalankannya, bisa
dibuktikan pada kalimat “Baik bu, nanti
akan saya antarkan mejanya kelantai bawah.” kalimat tersebut terbukti jika sipenghuni
kos memberi pengorbanan terhadap pemilik kos yang telah memberi perintah.

2.     
Maksim
Kesimpatisan (Sympath Maxim)

      Maksim ini merupakan maksim yang mengharuskan penutur untuk
bisa mengurangi rasa antipati antara dirinya dengan orang lain, namun penutur
harus mampu memaksimalkan rasa simpatinya terhadap orang lain. Dari 27 data
yang terkumpul tidak ditemukan adanya tuturan yang menunjukkan adanya maksim
kesimpatisan.

3.     
Maksim
Kesepakatan/ Permufakatan (Agreement
Maxim)

      Maksim kesepakatan merupakan maksim yang mengharuskan penutur
selalu mengurangi ketidak sesuaian antara dirinya dengan orang lain, dan
diharuskan untuk meningkatkan kesesuaian antara diri sendiri dengan orang lain.
Dari 27 data yang terkumpul tidak ditemukan adanya tuturan yang menunjukkan
adanya maksim kesepakatan.

4.     
Maksim
Kerendahan Hati/ Kesederhanaan (Modesty
Maxim)

      Merupakan maksim yang mengharuskan penutur untuk meminimalkan
pujian terhadap dirinya sendiri, dan menambahkan cacian pada dirinya sendiri. Dari
27 data yang terkumpul tidak ditemukan adanya tuturan yang menunjukkan adanya
maksim kerendahan hati.

5.     
Penggunaan
Maksim Pujian/ Penghargaan (Approbation
Maxim)

      Maksim pujian merupakan maksim yang meminimalkan cacian pada
orang lain, namun memaksimalkan pujian terhadap orang lain. Dari 27 data yang
ada terdapat 4 tuturan yang mengandung maksim pujian, salah satunya terdapat
pada data ke-21, lebih jelasnya perhatikan paparan tuturan berikut;

 

(05)             : DT-21

Eksplikatur  : “Suwun
bu. Wah masakane sampean enak gih bu”.

Implikatur   : Diduga sipenghuni menikmati masakan pemilik
kos.

Konteks       :
Percakapan yang terjadi ketika sipenghuni merasakan makanan pemilik kos yang
dianggapnya enak.

Maksud
TK : Sipenghuni kos memberi pujian terhadap pemilik kos terkait masakannya yang
enak.

            Dari
tuturan 05 di atas terlihat bahwa sipenghuni kos mencoba untuk mengurangi
cacian terhadap orang lain, namun sipenghuni kos menambah pujian terhadap orang
lain, yakni terlihat pada tuturan “wah
masakane sampean enak gih bu.” yang artinya “wah masakan anda enak ya bu.”
Dari tuturan tersebut, terlihat bahwa sipenghuni kos memuji masakan pemilik kos
yang rasanya dianggap enak oleh sipenghuni kos .

 

6.     
Penggunaan
Maksim Kearifan atau Kebijaksanaan (Tact
Maxim)

Maksim kearifan merupakan maksim di
mana penutur diharuskan untuk mengurangi kerugian bagi orang lain dan
menambahkan keuntungan bagi orang lain, Dari 27 data yang terkumpul tidak
ditemukan adanya tuturan yang menunjukkan adanya maksim kearifan.

 

D. Simpulan

            Berdasarkan
uraian yang telah ditulis penulis di atas, bahwa penulis melakukan studi
tentang kesantunan berbahasa pada komunikasi seorang penghuni-pemilik kos di
Kelurahan Jatimuyo,  Kecamatan Lowokawaru,
Kota Malang. Dari 27 data yang
mengandung kesantunan berbahasa, setiap kesantunan ditandai oleh penanda yang
berbeda-beda namun juga ada beberapa penanda yang sama. Prinsip yang digunakan
dalam penelitian ini menggunakan prinsip kesantunan Leech, dan ternyata
sebagain besar tuturan didominasi oleh maksim kedermawanan, dimana penutur
berusaha mengurangi keuntungan bagi dirinya, dengan menambah pengorbanan bagi
dirinya sendiri. Dari pemaparan prinsip kesantunan berbahasa milik Leech
tersebut, terdapat empat maksim yang keberadaannya tidak ditemukan dalam
penelitian ini, yaitu maksim kesimpatisan, maksim kesepakatan, maksim kearifan,
dan maksim kerendahan hati.

 

 

 

 

E. Daftar Pustaka

Nurdaniah, Mia. 2014. Prinsip Kesantunan Berbahasa menurut Leech pada Novel Pertemuan Dua
Hati Karya NH. Dini dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia di
SMA. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah .

http://eprints.ums.ac.id/39361/11/ARTIKEL%20PUBLIKASI.pdf

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=130163&val=2338&title=KESANTUNAN%20BERBAHASA%20DALAM%20BUKU%20AJAR%20BAHASA%20DAN%20SASTRA%20INDONESIA%20UNTUK%20SMK