Kompetensi 3.4.1 Menguraikan faktor-faktor penyebab penjajahan di Indonesia.

Kompetensi Dasar

3.2    
Mengidentifikasi faktor-faktor penting
penyebab penjajahan  bangsa Indonesia dan
upaya bangsa Indonesia dalam mempertahankan kedaulatannya.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

4.3  Menyajikan
 hasil identifikasi faktor-faktor penting
penyebab penjajahan  bangsa Indonesia dan
upaya bangsa Indonesia dalam mempertahankan kedaulatannya.

 

Indikator

2.4.1     

3.4.1       
Menguraikan faktor-faktor penyebab
penjajahan di Indonesia.

3.4.2       
Menganalisis upaya bangsa Indonesia dalam
melakukan perlawanan terhadap penjajah.

3.4.3       
Merinci organisasi pergerakan nasional
di Indonesia.

3.4.4       
Menelaah tokoh-tokoh lokal yang berjuang
melawan penjajahan Eropa dan Jepang.

4.4.1       
 

 

e.       Perlawanan Rakyat Buleleng

            Di bali pada abad ke-19, terdapat beberapa kerajaan yang
berdiri. Kerajaan tersebut yaitu kerajaan Buleleng, Karangasem, Bandung, dan
Gianyar. Pada
kerajaan-kerajaan tersebut berlaku sebuah hukum yang disebut Hukum Tawan Karang.
Hukum tawan karang adalah hukum yang mengatur mengenai hak kerajaan untuk
merampas muatan kapal yang terdampar di wilayah kerajaannya. Sehingga bila
terdapat kapal yang terdampar di salah satu wilayah kerajaan, kerajaan tersebut
dapat merampas muatan kapal yang terdampar itu.

            Saat itu, banyak
kapal milik Belanda yang terdampar di wilayah Bali sehingga muatan kapal
tersebut menjadi milik kerajaan di Bali. Belanda yang merasa dirugikan atas
hukum tersebut, akhirnya meminta raja-raja Bali untuk menghapus Hukum Tawan
Karang. Selain itu, Belanda juga memaksa raja-raja Bali untuk mengakui
kedaulatan Belanda di Bali. Karena raja-raja Bali menolak
akhirnya Belanda
memutuskan untuk menyerang Bali.

Pada
tahun 1844, sebuah kapal Belanda terdampar di wilayah kerajaan
Buleleng dan kapal tersebut dikenakan Hukum Tawan Karang. Oleh karena itu pada
tahun 1846, Belanda datang ke wilayah Buleleng. Kedatangan tersebut bertujuan
untuk mengeluarkan perintah kepada Rajaja agar mengakui kekuasaan Belanda dan menghapus
Hukum Tawan Karang. Belanda juga meminta agar kerajaan memberikan perlindungan
kepada perdagangan Belanda.

Raja Buleleng tidak
menyetujui perintah tersebut yang menyebabkan terjadinya peperangan antara
rakyat Bali dan Belanda. Pada peperangan itu, Raja Buleleng dibantu oleh Ketut
Gusti Jelantik yang menjabat sebagai patih kerajaan Buleleng. Dalam peperangan tahun
1846, Belanda menyiapkan 1.700 orang pasukannya untuk menyerang Bali. Namun
serangan tersebut berhasil digagalkan oleh Patih Ketut Gusti Jelantik.

Pada tahun 1848,
Belanda mengirim pasukan militer dan terjadilah pertempuran sengit di Jagaraga.
Patih Ketut Gusti Jelantik yang memimpin pasukan Bali menyambut kedatangan
Pasukan Belanda. Sedangkan pasukan dari kerajaan Karangasem dan Buleleng melakukan
perlawanan di derah Benteng Jagaraga. Rakyat Bali yang dipimpin oleh Patih
Ketut Gusti Jelantik akhirnya terdesak yang berakibat jatuhnya Benteng Jagaraga
ke tangan Belanda.

Pada tahun 1849,
Belanda berhasil menguasai wilayah Bali Utara. Setelah itu Belanda memperluas
kekuasaannya ke wilayah Bali Selatan. Belanda berhasil memasuki Pantai Sanur
dan Denpasar. Setelah itu, Belanda secara berturut-turut melakukan penyerangan
ke Keraton Pamecutan dan Klungkung. Raja Klungkung melawan Belanda habis-habisan
namun persenjataan Belanda lebih unggul. Akhirnya Belanda berhasil mengalahkan
Klungkung dan menguasai Bali sepenuhnya.

 

f.      
Perlawanan
Sisingamaraja XII (1878-1907)

            Pada tahun 1867, Sisingamangaraja
XI yang merupakan raja Kerajaan Bakkara di daerah Tapanuli, Sumatera Utara meninggal
dunia. Beliau digantikan oleh Patuan Bosar Ompu Pulo Batu yang merupakan
putranya. Setelah menggantikan ayahnya menjadi Raja Bakkara, ia bergelar Sisingamangaraja
XII. Pada waktu itu, Belanda sudah mempunyai pos militer didaerah Sibolga,
Belanda berusaha memperluas daerah kekuasaannya. Pada masa pemerintahan
Sisingamangaraja XII, datanglah orang-orang Belanda yang bertujuan menguasai
wilayah Tapanuli. Sisingamangaraja XII bersama rakyatnya mengangkat senjata dan
mengadakan perlawanan terhadap Belanda.

Sisingamangaraja XII

http://2.bp.blogspot.com/–NQFUgDHSwY/VY_fQEiRJlI/AAAAAAAAAXE/v4DsUb-UQ1c/s200/biografi%2Bsisingamangaraja%2BXII.jpg

Pada
tahun 1878, Belanda menyerang daerah Tapanuli. Serangan ini dapat digagalkan
oleh rakyat Tapanuli. Pada tahun 1889, pertempuran yang sangat hebat terjadu di
daerah Silindung Humbang dan Tobe Hulbung. Karena banyak prajurit yang gugur di
medan perang, sejak tahun 1900, Sisingamangaraja XII mengambil sikap bertahan.

Pada
tahun 1904, pasukan Belanda menyerang Tanah Gayo dan daerah Danau Toba, pada
tahun 1907, pasukan Belanda dibawah pimpinan Kapten Hans Christoffel menyerang
pusat pertahanan Sisingamangaraja XII di Pak-Pak, Sumatera Utara. Dalam
serangan ini, Sisingamangaraja XII gugur sebagai kusuma bangsa pada tanggal 17 Juni 1907. Jenazanya dimakaman di
Tarutung, kemudian dipindahkan ke Balige. Perlawanan Sisingamangaraja XII
terjadi antara tahun 1870-1907.

a.      Perlawanan
Rakyat Aceh (1873-1904)

Ketegangan
antara Aceh dan Belanda telah terpada tahun 1858. Ketika itu, Belanda
mengadakan perjanjian denganSultan Siak. Isi perjanjian tersebut adalah
Kerajaan Siak harus menyerahkan wilayah Deli, Serdang, Langkat, dan Asahan
kepada Belanda. Aceh menolak karena menganggap daerah itu merupakan wilayah
Aceh sejak pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Pada
tanggal 5 April 1873, dibawah pimpinan Jenderal J.H.R. Kohler yang mengerahkan
3.000 tentara, Belanda mulai menyerang Aceh. Pertempuran berkobar di sekitar
Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Setelah pertempuran berlangsung beberapa
lama, Masjid Raya Baiturrahman terbakar dan dapat dikuasai oleh Belanda. Dalam
pertempuran itu, pimpinan pasukan Belanda, Jenderal Kohler tewas. Meskipun
Masjid Baiturrahman dapat di kuasai Belanda, namun hal tersebut tidak
berlangsung lama. Pasukan Belanda semakin terdesal dan pergi meninggalkan Aceh
pada tanggal 29 April 1873.

Karena
merasa tidak puas, Belanda kembali menyerang Aceh. Di bawah pimpinan Jenderal J,
van Swieten dengan kekuatan 8.000 tentara, Belanda akhirnya dapat merebut
Istana Aceh. Walaupun istana dapat direbut Belanda, namun rakyat Aceh tetap
melakukan perlawanan. Dalam perlawanan ini, muncul tokoh-tokoh seperti Teuku
Umar, Panglima Polim, Teungku Chik di Tiro, Cut Nyak Dien, dll. Rakyat Aceh
berjuang dengan gagah berani dan rakyat berjuang dengan semangat perang. Mereka
terbantu dengan adanya daerah yang berhutan lebat. Karena hal tersebut
menyulitkan pasukan Belanda untuk bergerak maju.

Perlawanan
rakyat terus berkobar. Teungku Cik di Tiro memimpin perlawanan di Pidie. Teuku
umar dan istrinya, Cut Nyak Dien, berjuang di Aceh Barat. Pada tahun 1879,
Belanda menyerbu dari berbagai penjuru dan berhasil menguasai seluruh Aceh.
Meskipun demikian, daerah-daerah hutan dan pegunungan masih dikuasai oleh
rakyat Aceh. Teuku Ibrahim memimpin perang gerilya. Sayangnya, dalam suatu
penyerbuan ke pos Belanda, Teuku Ibrahim gugur. Perjuangan rakyat Aceh yang
pantang menyerang membuat Belanda menjadi kewalahan. Karena pasukannya sering
terdesak, Belanda menjalankan siasat baru yang disebut Stelse Konsentrasi.  Artinya,
menjalankan siasat baru pada daerah-daerah yang sudah dikuasai. Dengan siasat
ini, Belanda dapat menghemat tenaga, alat perang, maupun biaya. Meskipun
demikian, Belanda mengalami kerugian besar karena serangan terus-menerus dari
para pejuang Aceh. Pada tahun 1893, Teuku Umar berpura-pura menyerahkan kepada
Belanda. Belanda sangat gembira dan ia terima dalam dinas ketentaraan Belanda.
Ia diangkat menjadi Panglima Legiun Aceh. Teuku Umar diberi gelar Teuku Johan
Pahlawan. Teuku Umar yang memimpin 250 orang prajurit, meminta tambahan senjata
dari Belanda. Tindakan yang dilakukan Teuku Umar ini tentu saja tipu muslihat
belaka. Setelah merasa kuat dan memiliki persenjataan lengkap, pada tahun 1896,
Teuku Umar berbalik menyerang Belanda.

Teuku Umar

https://3.bp.blogspot.com/-RcszhpjtO48/WAdqVGW9G4I/AAAAAAAACLE/zn8g8auTAacTubvS6TcT4-vNBtX-viITQCLcB/s400/Screenshot_40.png

            Belanda mengalami kesulitan dalam
menghadapi rakyat Aceh. Untuk itu, Belanda berusaha mengetahui kekuatan utama
Aceh. Ternyata, kekuatan itu berhubungan dengan kehidupan sosial budayanya.
Untuk mengetahui kekuatan perjuangan rakyat Aceh, Belanda  mengirim Dr. Snouck Hurgronje adalah seorang
ahli mengenai Islam . ia lalu berpura-pura menjadi seorang muslim yang taat dan
berhasil bergaul dengan masyarakat Aceh. 
Hasil penyelidikan Dr. Snouck Hurgronje ini dijadikan siasat oleh
Belanda untuk menundukkan perlawanan rakyat Aceh. Pemerintahan Belanda
mengangkat Jenderal Johannes Benedictus van Heutsz sebagai gubernur militer. Ia
segera membentuk pasukan gerak cepat dan dilatih sebagai pasukan anti perang
geriliya. Pasukan itu di sebut Marsose .
pasukan Marsose menyerang kubu-kubu pertahanan pasukan Aceh yang ada di hutan,
gunung dan lembah secara terus–menurus. Pasukan Aceh sedikit pun tidak diberi
waktu untuk beristirahat .

Pada
tahun 1899, Teuku Umar gugur dalam sebuah pertempuran di Meulaboh.
Perjuangannya dilanjutkan oleh istrinya, Cut Nyak Dien. Pada tahun 1904, Van
Heutsz mengeluarkan “Plakat Pendek” yang harus ditandatangani oleh kepala-kepala
daerah di Aceh sebagai tanda bahwa Aceh tunduk kepada Belanda. Dengan
penandatanganan Plakat Pendek itu, Belanda berhasil menguasai seluruh Aceh.
Perjuangan rakyat Aceh berlangsung sampai dengan tahun 1937.

A.    
Perjuangan Melawan Jepang

1.      Perang
Pasifik (Perang Asia Timur Raya)

Pada tanggal 8
Desember 1941, armada angkatan laut Jepang menyerang pangkalan angkatan laut
Amerika Serikat di Pearl Harbor (kepulauan Hawaii). Selah penyerangan tersebut,
Jepang menyatakan perang terhadap Amerika Serikat. Pada waktu itu, Belanda pun
menyatakan perang terhadap Jepang. Pernyataan itulah yang dijadikan alas an
oleh jepang untuk menyerang Indonesia. Akibatnya, pecahlah Perang Asia Timur
Raya. Dalam waktu singkat, pasukan Jepang menyerbu dan menduduki Filipina, Burma
(sekarang Myanmar), Malaya (sekarang Malaysia), Singapura, dan Indonesia.

Serbuan Jepang
tanggal 26 Desember 1941 berhasil melumpuhkana pertahanan Hindia Belanda di
Indonesia. Pasukan Jepang berhasil menghancurkan pangkalan dan pertahanan udara
Hindia Belanda di Tondano, Sulawesi Utara. Pada tanggal 10-11 Januari 1942,
pasukan Jepang mendarat di Tarakan, Kalimantan Timur. Pada tanggal 23 Januari
1942, Jepang menduduki Balikpapan, Kalimantan Timur. Selanjutnya tanggal 14
Februari 1942, giliran Palembang, Sumatera Selatan jatuh ke tangan Jepang. Pada
tanggal 16 Februari 1942, Plaju Sumatera Selatan juga berhasil dikuasai Jepang.
Kota-kota yang diduduki dan dikuasai Jepang tersebut adalah kota penghasil
minyak bumi. Setelah itu, perhatian Jepang diarahkan ke Pulau Jawa.

Pada tanggal 1
Maret 1942, tentara Jepang berhasil mendarat secara serempak di tiga tempat di
Pulau Jawa, yaitu di sekitar Merak dan Teluk Banten, di sekitar Eretan Wetan,
Cirebon, dan di Desa Krangan, sebelah timur Pasuruan, Jawa Timur. Penyerangan
Jepang ke pulau Jawa ini di pimpin oleh Letnan Jenderal Hitoshi Imamura.
Jakarta dapat diduduki dan dikuasai Jepang pada tanggal 5 Maret 1942 sehingga
pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Panglima angkatan
perang Hindia Belanda, Letnan Jendera Ter Poorten, atas nama seluruh Angkatan
Perang Sekutu, akhirnya menyerah tanpa syarat pada Angkatan Perang Jepang yang
dipimpin oleh Letnan Jenderal Hitoshi Imamura. Gubernur Jenderal Hindia
Belanda, yaitu Tjarda van Stakenborgh Stachouwer menyerahkan Pemerintahan
Hindia Belanda kepada Jepang. Upacara penyerahan itu berlangsung di Kalijati
(dekat Subang), Jawa Barat. Dengan menyerahnya Belanda tanpa syarat  tersebut, berakhirlah penjajahan Belanda di
Indonesia.

2.      Kedatangan
Tentara Jepang di Indonesia

Kedatangan
tentara Jepang yang berhasil mengalahkan Belanda semula disambut dengan tangan
terbuka oleh bangsa Indonesia. Di mana-mana tentara Jepang disambut sebagai
tentara yang membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Orang-orang
Jepang mempergunakan kesempatan ini sebagai alat propaganda agar rakyat
Indonesia mau membantu Jepang tentara Jepang sangat pandai memikat hati rakyat
Indonesia dengan mengumbar janji dan harapan. Rakyat Indonesia dihasut agar
memusuhi bangsa Belanda.

Tentara
Jepang berhasil menarik simpati rakyat Indonesia sudah bosan dengan penindasan
Belanda yang sudah berlangsung 3 setengah abad. Tentara Jepang menyerbu dan
mengusir Belanda dengan tujuan membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan
Belanda. Jepang mempunyai tujuan tersembunyi, yakni menguasai Indonesia yaitu:

a.      
Indonesia
kaya akan bahan mentah seperti minyak bumi, batu bara dll

b.     
Indonesia
kaya akan hasil pertanian dan perkebunan seperti beras, karet, kapas, jagung,
dan rempah-rempah.

c.      
Indonesia
memiliki tenaga manusia dalam jumlah banyak sebagai tenaga kerja

Jepang berusaha
menarik simpati rakyat Indonesia terutama para pemimpin pergerakan nasionalnya.
Ada tiga cara jepang dalam menarik simpati rakyat  sebagai berikut:

a.      
Bendera
Merah Putih diizinkan berkibar di Indonesia.

b.     
Rakyat
Indonesia diizinkan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” ciptaan Wage Rudolf
Suparatman.

c.      
Bangsa
Indonesia boleh dipakai sebagai bahasa pergaulan sehari-hari, menggantikan
bahasa Belanda. Sejak saat itu, bahasa Indonesia dijadikan bahasa pengantar di
sekitar sekolah.

3.      Pengerahan
Tenaga Kerja Romusha Oleh Jepang Terhadap Penduduk Indonesia.

Kedatangan
tentara jepang disambut gembira oleh bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia
berharap kedatangan Jepang, bangsa Indonesia lepas dari penjajahan yang dialami
selama penjajahan Belanda. Akan tetapi, semakin lama semakin terasa betapa
kejamnya Jepang. Bahkan, tentara jepang lebih kejam daripada bangsa Belanda.
Semua hasil bumi di Indonesia diambil. Akibatnya para petani tidak mempunyai
beras untuk dimakan. Seluruh panen padi di ambil secara paksa oleh Jepang
seperti beras, jagung, ketela atau singkong, telur bahkan ternak milik para
petani untuk memenuhi kebutuhan tentara Jepang sendiri.

Rakyat
Indonesia semakin menderita karena tidak tersedia obat-obatan. Rakyat mudah
terserang penyakit seperti tipus, kolera, disentri, malaria dll. Rakyat
Indonesia juga kekurangan pakaian. Biarpun ada uang untuk membeli, tetapi bahan
pakaian tidak banyak dijual. Akibatnya, rakyat memakai pakaian compang-camping
dan penuh tambalan. Tidak sedikit pula yang memakai pakaian dari karung goni,
karet lempengan, atau daun rumbia. Untuk mempelancar pencapaian tujuan dalam
perang, jepang mengerahkan tenaga rakyat sebagai tenaga kerja. Rakyat dipaksa mengerjakan
pekerjaan berat seperti membuat jalan raya, jembatan, benteng pertahanan,
lapangan udara, dll. Kerja paksa zaman Jepang disebut romusha .

Romusha Membuat Rakyat Lebih
Menderita

http://3.bp.blogspot.com/-owuubl7Cbeg/TmCH_ikyUsI/AAAAAAAAA6Q/PeSGF_h-fis/s320/romusha4.jpg

Tenaga kerja romusha tidak hanya dipekerjakan di
dalam negeri, bahkan dikirim ke luar negeri sebagai tenaga kerja di perkebunan.
Ada yang dikirim ke Vietnam, Burma (Myanmar), Thailand, dan Malaya
(Malaysia).mereka berkerja tanpa menerima upah, bagi yang membatah akan
disiksa. Kerja paksa romusha sering
terancam serangan udara dari Sekutu dang terancam mati karena kelaparan dan malaria.
Pekerjaan mereka sangat beratm sedangkan makanan dan kesehatan mereka tidak
diperhatikan akibatnya para romusha
banyak yang tewas.

4.      Organisasi-organisasi
Bentukan Jepang

Beberapa
organisasi bentukan Jepang di Indonesia adalah sebagai berikut:

a.      Gerakan
Tiga A

Semboyan
Gerakan Tiga A adalah:

1.     
Jepang
Pemimpin Asia,

2.     
Jepang
Pelindung Asia,

3.     
Jepang
Cahaya Asia.

Gerakan Tiga A
didirikan bulan Maret 1942 sebagai bagian dari propaganda (Sendenbu) Jepang.
Pelapor Gerakan Tiga A ialah Shimizu Hitoshi. Ketua Gerakan Tiga A dipercayakan
kepada Mr. syamsuddin yang dibantu oleh beberapa orang bekas tokoh Parindra
(Partai Indonesia Raya), seperti K. Sutan Pamuntjak dan Muhammad Saleh. Gerakan
Tiga A bukanlah gerakan kebangsaan Indonesia. Gerakan ini lahir semata-mata
untuk menarik simpati rakyat Indonesia agar mau membantu Jepang. Gerakan ini
kurang mendapat perhatian karena bukan gerakan kebangsaan Indonesia. Oleh
karena kurang berhasil menggerakkan rakyat, gerakan ini dibubarkan.

b.      Organisasi
Islam

1.      Majelis
Islam A’la Indonesia (MIAI)

Organisasi
ini sebenarnya bukan murni bentukan Jepang. Majelis islam A’la Indonesia (MIAI)
didirikan oleh K.H. Mas Mansyur pada tahun 1937 di Surabaya. Pada Mei 1942,
MIAI dihidupkan kembali oleh pemerintahan jepang.

2.      Majelis
Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi)

Pada
bulan Oktober 1943, MIAI resmi dibubarkan. Sebagai gantinya, dibentuklah
organisasi Islam baru, yaitu Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi)
organisasi ini resmi berdiri pada tanggal 22 November 1943. Ketuanya adalah K.H.
Hasjim Asj’ari, dibantu oleh K.H. Mas Mansyur dan K.H. Farid Ma’ruf.

Pemerintahan
Jepang member kebebasan kepada pemuda-pemuda Islam untuk membentuk
lascar-laskar muslim Indonesia. Mereka diberikan latihan-latihan militer oleh
Jepang. Laskar Islam itu antara lain lascar Hisbullah, lascar Fisabillah dll.

 

g.     
Perlawanan
Rakyat Aceh