Luka atau ulkus jika proses penyembuhan luka terganggu

Luka dapat didefinisikan
sebagai hilang atau terganggunya kontinuitas struktur  jaringan normal.1,2,3 Luka dapat
disebabkan karena proses fisik (seperti tekanan, gesekan, dan benturan), kimia,
termal (suhu), maupun proses imunologis.1 Luka akut dan kronis
merupakan masalah yang sangat sering terjadi di seluruh dunia dan menjadi salah
satu penyumbang pasien terbanyak untuk perawatan di rumah sakit.4
Biaya perawatan luka menjadi salah satu beban biaya kesehatan yang cukup tinggi
pertahunnya, baik bagi penderita itu sendiri maupun penyelenggara kesehatan.4,5
Setiap tahunnya, lebih dari satu miliar USD dihabiskan untuk perawatan luka di
seluruh dunia.6

Luka akut dapat
disebabkan karena tatalaksana operasi, trauma atau kecelakaan, luka bakar
superfisial, dan bahkan bencana alam.4 Di Amerika, lebih dari sebelas
juta orang mengalami luka akut dan 300.000 orang di antaranya perlu mendapat
perawatan di rumah sakit pertahunnya.7 Luka akut dapat berkembang
menjadi luka kronis atau ulkus jika proses penyembuhan luka terganggu atau
terhambat.7,8 Gejala ulkus yang sering ditemukan dapat berupa nyeri,
adanya eksudasi (nanah), dan bahkan dapat mengeluarkan bau yang tidak sedap.9

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Setiap tahunnya,
diperkirakan 6,5 juta orang mengalami luka kronis yang disebabkan karena
tekanan, stasis vena, serta diabetes mellitus di Amerika.2 Di negara
bekembang, 1-2% populasinya diperkirakan memiliki risiko terjadinya luka kronis.4
Penderita penyakit yang memiliki potensi berkembangnya luka kronis seperti
diabetes mellitus, obesitas, serta penyakit vaskular terus meningkat di seluruh
dunia, sehingga angka kejadian luka kronis juga diperkirakan akan terus
meningkat.2,29 Hal ini disebabkan karena penyembuhan luka menjadi
lebih kompleks dan lebih sulit terjadi sehingga prosesnya berlangsung lebih
lambat.16

Luka memiliki dampak
yang sangat signifikan terhadap kualitas hidup seseorang.8 Rasa
sakit, berkurangnya fungsi dan mobilitas sehingga produktivitas menurun,
merupakan dampak luka yang sering terjadi.8 Luka kronis berisiko
tinggi untuk terjadinya infeksi dan dapat berujung pada amputasi sehingga dapat
menyebabkan disabilitas.8 Dari segi kosmetik atau estetika, bekas
luka, terbentuknya jaringan parut, dan juga ulkus akan memengaruhi penampilan
seseorang.8 Penderita dapat mengalami depresi, stres, ansietas, rasa
malu, bahkan isolasi sosial.4,9,8 
Luka tidak hanya berdampak pada masalah ekonomi tetapi juga psikologis
dan sosial, baik bagi penderita dan juga bagi keluarganya.8 Ilmu
mengenai penyembuhan luka menjadi suatu hal yang perlu dikembangkan lebih
lanjut terutama dalam hal intervensi atau pengobatan untuk membantu proses
penyembuhan luka supaya dapat mencegah dan mengurangi dampak negatif yang
dihasilkan.5,25

Penyembuhan luka
merupakan serangkaian proses dinamis yang diperlukan untuk menghilangkan
patogen-patogen ataupun benda asing lainnya serta mengembalikan integritas
struktural dan fungsional jaringan yang rusak semirip mungkin dengan keadaan
semula.1,13,16,24  Penyembuhan
luka terdiri atas empat fase yang saling berhubungan dan tumpang tindih, yaitu
fase koagulasi, inflamasi, proliferatif, dan maturasi.7,16 Proses-
proses tersebut haruslah terjadi dengan urutan dan waktu yang tepat untuk
mencapai penyembuhan luka yang optimal.25

Makrofag merupakan salah
satu komponen kunci dalam proses penyembuhan luka karena memiliki peran hampir
di semua fase dari proses tersebut.15,17 Makrofag menghasilkan
berbagai sitokin yang merangsang proses inflamasi, migrasi dan proliferasi
fibroblas.15 Dalam responnya terhadap rangsangan lingkungan
mikronya, makrofag dapat berpolarisasi sehingga menjadi fenotip dengan fungsi
tertentu.12 Berdasarkan proses aktivasinya, makrofag terbagi menjadi
dua, yaitu classically activated
macrophage (CAM atau M1) dan alternatively
activated macrophage (AAM atau M2).12

Polarisasi makrofag
merupakan suatu hal yang penting dalam penyembuhan luka.12 Adanya
gangguan pada proses polarisasi makrofag dapat menyebabkan efek patologis pada
luka.12 Makrofag M1 memiliki efek pro-inflamasi dan berperan dalam
tahap awal penyembuhan luka dengan menstimulasi imunitas dapatan dan melakukan
pembersihan (debridement) luka.25
Inflamasi merupakan suatu konsekuensi atas terjadinya luka yang tidak dapat
dihindari.30 Walaupun inflamasi memiliki peran penting dalam proses
penyembuhan luka, proses inflamasi yang terjadi secara berlebihan dapat menyebabkan
kerusakan jaringan.15  Oleh
karena itu, makrofag M2 yang bersifat anti inflamasi akan mulai bekerja pada
fase penyembuhan luka selanjutnya. Makrofag M2 
akan merangsang resolusi inflamasi serta menghasilkan berbagai faktor
pertumbuhan seperti tumor necrosis factor
(TNF), platelet- derived growth
factor (PDGF), transforming growth
factor- ? (TGF- ?), fibroblast growth factor
(FGF), serta vascular endothelial growth factor (VEGF) untuk menstimulasi proliferasi, migrasi fibroblas, serta
proses angiogenesis untuk perbaikan jaringan yang rusak.12,17
Karakteristik serta fungsi dari makrofag tersebut memiliki potensi sebagai alat
sekaligus target terapeutik yang dapat dikembangkan, salah satunya untuk penyembuhan luka.14

Tatalaksana farmakologis
luka umumnya meliputi pemberian obat analgesik, antiseptik, dan antibiotik yang
diadministrasikan baik secara lokal (topikal) maupun secara sistemik (oral atau
parenteral).1,24 Namun, selain biayanya cukup mahal, beberapa obat
seperti nonsteroidal anti-inflammatory
drugs (NSAID), ternyata dapat memperlambat proses penyembuhan luka.24  Berbagai tanaman obat berpotensi untuk
digunakan sebagai terapi penyembuhan luka.1 Bahkan, tanaman- tanaman
tersebut telah banyak digunakan sebagai pengobatan tradisional untuk luka
seperti lidah buaya, Ginkgo biloba,
dan Curcuma longa.1 Selain
harganya yang terjangkau, tanaman obat tersebut juga jarang menimbulkan reaksi
alergi.1 Namun, masih diperlukan identifikasi dan validasi secara
ilmiah lebih lanjut sebelum tanaman- tanaman tersebut direkomendasikan
penggunaannya.1

Curcuma longa atau kunyit merupakan tanaman yang
berasal dari India.24 Berdasarkan data Statistik Produksi
Hortikultura tahun 2014 Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian,
kunyit berkontribusi sekitar 18,82%
terhadap produksi tanaman biofarmaka nasional dan menempati posisi kedua setelah jahe.43 Kunyit
telah dikenal luas oleh masyarakat sebagai tanaman yang memiliki banyak manfaat
seperti pewarna makanan dan bumbu dapur.15 Selain itu, sejak
beberapa abad lalu, kunyit juga telah banyak digunakan sebagai obat tradisional
untuk mengobati berbagai penyakit seperti rematik, ulkus diabetik, anoreksia,
batuk dan sinusitis.15 Kunyit 
mengandung curcumin (diferuloylmethane), salah satu curcuminoid  yang memberi warna kuning yang khas pada
kunyit.15 Curcumin
merupakan zat aktif yang  memiliki  banyak efek terapeutik yang signifikan, di
antaranya anti inflamasi, anti bakteri, anti oksidan, anti karsinogenik, anti
mutagenik, anti koagulan dan anti infeksi.10,11,15 Kunyit juga
diketahui memiliki efek analgesik yang cukup poten serta mengandung berbagai
vitamin( vitamin A, B, dan C), lemak, dan juga protein yang berperan penting
dalam penyembuhan luka.1 Efek anti inflamasi dan zat- zat yang
terkandung dalam kunyit dapat membantu sintesis serabut- serabut kolagen.1
Besarnya potensi kunyit tersebut serta peranan makrofag M2 yang sangat
penting dalam proses penyembuhan luka, mendorong peneliti untuk melakukan
penelitian in vitro berupa kultur
makrofag yang diberikan stimulasi
dengan ekstrak Curcuma longa untuk melihat pengaruhnya terhadap
polarisasi makrofag.